Jumat, 16 Februari 2018

KOTA BONTANG KOTA KENYAMANAN

Bontang, Kota Kecil Berjuta Kenyamanan

Hasil gambar untuk kota bontang
Bontang, Kalimantan Timur

Bontang merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur. Banyak yang tidak mengenal kota Bontang dan tidak banyak pula yang baru mendengar kota bernamakan Bontang. Bontang merupakan kota penghasil gas alam terbesar di Indonesia bahkan di dunia, selain gas, Bontang adalah tempat pengelolaan Pupuk. Kota yang berhadapan langsung dengan selat Makassar yang berada di Provinsi Kalimantan Timur ini cukup terik dengan panas mataharinya, namun menyimpan sedikit aroma kehangatan permainan angin segarnya. Ya, ada sebuah pulau kecil tempat dimana kita bisa menemukan hembusan angin segar untuk keluar dari cuaca panasnya kota Bontang, yang terletak di tengah laut dengan pantai indahnya tak jauh dari kota Bontang, pulau yang luasnya sekitar 1 hektar ini memiliki mercusuar setinggi 15 meter yang berfungsi untuk navigasi kapal, jarak pulau dari pusat kota Bontang hanya sekitar 7 km


    Bontang mungkin merupakan kota yang kecil, tetapi di Kota Bontang terdapat dua perusahaan besar yang juga memberi kontribusi cukup besar bagi kemajuan Indonesia yaitu PT Badak NGL dan PT Pupuk Kalimantan Timur. Banyak orang belum tahu bahwa Bontang memiliki sejumlah objek wisata yang bisa memberikan kenyaman bagi siapapun yang jenuh dengan keramaian dan kemacetan ibu kota. Salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi
    oleh orang-orang yang sedang main ke kota Bontang adalah Pulau Beras Basah, pulau dengan pasir putih yang lembut. Banyak yang bilang bahwa Pulau ini tampak seperti Maldives versi kecil. Di Pulau Beras Basah ini terdapat wahana air yang bisa kita coba dan pastinya terdapat pondok-pondok penginapan bagi mereka yang ingin bermalam di Pulau ini. Tetapi untuk bisa sampai ke Pulau Beras Basah, harus menaiki perahu atau speed boat terlebih dahulu selama kurang lebih 1 jam dikarenakan belum ada jalan darat untuk bisa sampai kesana.
    Hasil gambar untuk pulau beras basah bontang
    Pulau Beras Basah
    Mengapa dinamakan Beras Basah? Menurut cerita masyarakat setempat, konon dahulu ada kapal yang berlayar dari Pulau Celebes (Sulawesi) mengangkut karung yang berisi ribuan ton beras menuju Bontang. Namun nahas kapal tersebut karam dihantam ombak besar yang mengharuskan muatan-muatan kapal yang banyak berisi beras tadi hanyut tercecer dan menutupi sebagaian permukaan air di sekitar pulau. Akhirnya oleh masyarakat sekitar menamakan pulau tersebut dengan nama Beras Basah.

    Sekian sedikit cerita dari saya mengenai kota kecil yang bernama Bontang dan sebuah pulau kecil didalamnya yang bernama Pulau Beras Basah. Ayo main ke kota Bontang....:)




    Senin, 18 Desember 2017

    KOPMA Sebagai UKM yang Bergerak Maju

     

     KOPMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Juara 3 National Cooperative Competition

     
    Peraih Penghargaan Cooperative Competition

     Yogyakarta- Kopma UIN Sunan Kalijaga kembali torehkan prestasi pada National Cooperative Competition (NCC) dilaksanakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tanggal (2-3/11). Kegiatan tersebut merupakan ajang kompetisi antar Koperasi Mahasiswa tingkat Nasional, dimana para peserta akan saling berkompetisi perihal pengetahuan perkoperasian, baik dari tataran teoris, yuridis, maupun manajemen koperasi. Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 tim yang terdiri dari 35 Universitas di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Kopma UIN Sunan Kalijaga yang diwakili oleh Anggota Kopma dari Mahasiswa Prodi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum yaitu Panca Putra Anggun, Kholil Hasim Nur Mahmud dan Murtadha Muthaharri berhasil meraih Juara 3.
    Panca selaku ketua tim bersyukur atas apa yang telah diraih bersama kedua rekannya tersebut “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas semua ini. Ini semua diluar dari ekspektasi kami, kami selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Kopma pada Khususnya dan UIN pada umumnya. Do’a dan atas Ridha-Nya, yang membuat kami selalu berpegang teguh pada prinsip kami yakni beri kami sebuah kesulitan maka kami akan belajar, dari situlah motivasi kami terbentuk. Kami bangga berkoperasi, karena berkoperasi membuat kami berprestasi” kata Panca.
    Andi Sopyan Sauri, Ketua Kopma UIN Suka, mengatakan bahwa Keberhasilan ini tidak lepas dari semangat juang dan komitmen dari Kopma UIN Sunan Kalijaga terhadap visinya Menjadi Mitra Sukses Study Anggota. Prestasi yang telah ditorehkan dalam ajang NCC ini merupakan salah satu dari beberapa prestasi yang telah diukir oleh anggota dalam tahun 2017 ini dan juga sebagai penutup pencapaian di akhir tahun 2017. “Saya sangat mengapresiasi kepada para anggota yang telah berjuang dan bekerja keras untuk Kopma UIN Sunan Kalijaga melalui prestasi dan berbagai kegiatan-kegiatan lainnya. Hal tersebut merupakan bukti, bahwa selain berusaha menjadi incubator pengembangan generasi kooperator yang unggul di lingkungan kampus, Kopma UIN Sunan Kalijaga juga akan selalu berusaha untuk mengharumkan nama baik Kopma UIN Sunan Kalijaga di kancah Nasional maupun internasional ” kata Andi Sopyan Sauri.
    Selain itu Kopma juga aktif mengikiti kegiatan Konferensi Koperasi dunia pad Tanggal (13-17/11), dengan kegiatan yang bernama Global Conference and General Assembly di Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Cooperative Alliance (ICA). Dalam konferensi ini, Andi Sopyan Sauri, Ketua Umum UKM Kopma menjadi delegasi Kopma UIN Sunan Kalijaga dalam konferensi tersebut. Acara ini diikuti oleh 7 Kopma, Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO), dan Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) sebagai wakil peserta dari Indonesia. (Doni TW-humas UIN Suka)


    Rabu, 08 November 2017

    Jurnal Review

    KEBEBASAN BERAGAMA TANPA ADANYA PENODAAN AGAMA
    Oleh : Zakiyah Ainun Putri
    (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


    Perdebatan yang tidak pernah ada habisnya terus mewarnai perbincangan dan praktik mengenai kebebasan beragama. Berbicara mengenai kebebasan yang konteksnya membahas tentang agama, memang dapat menimbulkan presepsi ganda. Bisa saja kata ‘’kebebasan’’ dalam beragama ini diartikan sebagai suatu hal yang bersifat mutlak dan tidak ada batasannya atau bisa jadi kebebasan disini dimaknai sebagai suatu hal yang sifatnya relatif yang memiliki batasan-batasan. Kebebasan berkeyakinan dan larangan penodaan agama adalah dua entitas yang selalu mengalami pergulatan serius terkait HAM. Kenyataan seperti inilah yang sedang dialami UU No.1/PNPS/Th.1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
    Belum lama ini, terdapat sebuah fakta mengenai adanya kasus penodaan agama. Terjadinya sebuah penodaan agama sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa faktor, tetapi berdasarkan kejadian belum lama ini, penodaan agama besar penyebabnya karena politik. Larangan penodaan agama sendiri merupakan instrumen untuk menjaga kebebasan berkeyakinan agar selalu memperhatikan kerukunan. Dengan persyaratan ini seseorang tidak boleh mengekspresikan keberagamaannya dengan cara melukai atau menodai ajaran suatu agama.
    Problem pendefinisian kebebasan berkeyakinan ini berawal dari problem penempatan HAM, dimana HAM dimaknai sebagai hak asasi yang melekat (in heren) pada diri manusia sehingga HAM harus dihormati karena merupakan pemberian dari Tuhan bukan negara. Dengan penalaran ini, sumber hak asasi manusia sesungguhnya berasal dari keberadaannya sebagai manusia atau individu. Ahli HAM Indonesia seperti Muladi dan Seotandyo pun berpendapat sama, kemudian pendefinisian itu diakomodasi dalam Pasal 1 UU 39/1999 mengenai HAM.
    Kasus penodaan agama yang terjadi di Indonesia bukanlah sebuah kasus yang dapat disepelekan, karena Indonesia sendiri merupakan negara hukum dengan asas pancasila. Dalam pancasila sila ke-1 yang berbunyi ‘’Ketuhanan yang Maha Esa’’, terlihat jelas maknanya bahwa setiap manusia adalah orang yang memiliki agama dan meyakini akan adanya Tuhan. Sila ke-1 pancasila tersebut dikuatkan dengan adanya sila ke-5 pancasila yang berbunyi ‘’Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’’ dimana dalam sila ini terkandung nilai keadilan yang meliputi persamaan hak seluruh rakyat yang dilandasi dengan hak dan kewajiban masing-masing orang dan perlunya sikap saling menghormati agar keadilan tersebut dapat tercapai. Sama halnya dalam beragama, setiap masyarakat memiliki haknya masing-masing dalam berkeyakinan tetapi kebebasan dalam menginterpretasikan suatu agama haruslah memiliki batasan agar tidak menimbulkaan konflik seperti penodaan/penistaan agama.
    Dalam UU No.1/PNPS/1965 terdapat beberapa pasal yang diajukan judicial review, salah satunya yaitu Pasal 1 yang berbicara mengenai ‘’larangan dengan sengaja dimuka umum menceritakan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan itu, yang mana penafsiran dan kegiatan tersebut menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu’’. Dari bunyi pasal tersebut, terlihat pentingnya pembatasan kebebasan yang dapat berdampak pada kekeliruan yang berujung kegiatan penodaan agama. Jelas bahwa penodaan agama dapat menimbulkan perpecahan antar umat beragama yang seharusnya mampu menumbuhkan toleransi dan menghindari konflik.
    Putusan MK mengenai argumen hukum penolakan judicial review UU Penodaan Agama tertulis dengan kalimat bahwa dengan sudut pandang HAM, kebebasan beragama diberikan kepada setiap manusia sebagai kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab sosial untuk mewujudkan HAM bagi setiap orang. Putusan tersebut sejalan dengan penjabaran nilai pancasila pada sila pertama dan sila kelima yang terletak diparagraf sebelumnya.
    Sebagai warga negara yang bermartabat, hendaklah kita mulai menghindari sesuatu yang dapat menimbulkan konflik terutama pada suatu agama, jangan sampai kasus penodaan agama semakin marak terjadi karena kasus tersebut memiliki dampak yang sangat fatal. Untuk itu sangat diperlukan adanya toleransi dan saling menghargai hak orang lain, jangan mudah mengait-ngaitkan keagamaan dengan urusan politik karena jatuhnya akan mengarah pada diskriminasi yang kemudian memunculkan sebuah penodaan agama yang dapat merugikan banyak pihak. Daripada menimbulkan sebuah konflik lebih baik menciptakan unsur-unsur yang membawa keuntungan salah satunya dengan cara saling menghormati yang mana nantinya akan menciptakan perdamaian sehingga kita sebagai masyarakat dapat menjalani kehidupan yang harmonis dan sejahtera.




    Daftar Pustaka
    Tobroni, Faiq. Keterlibatan Negara dalam Mengawal Kebebasan Beragama/Berkeyakinan. Jurnal Konstitusi, Vol. 7 No. 6 Desember 2010. Alamat access http://ejournal.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php/jk/article/view/254/250